If I could have one wish, it would just be this, I could take you to my soul and show you all the love there is…

God…
Yesterday, my Echa asked me one difficult question
again
about my belief

God,
She asked me about who is my God
She asked me why I have a different way to praise You
And to show You how I love You

God,
Before I answered her question,
I tried to find a way to explain to her
But it’s so difficult

God,
Is it true that I have to praise you only in Arabic’s language?
The language that I don’t even understand but remember it word by word?

God…
She asked me whether I have the same God with her
I said, yes, there’s only one God in this entire world
But then she asked me, why she never saw me praying in the same way with hers?

I silent for a while
Didn’t even know how to explain it to her

God…
Forgive me for asking this question
Can I praise You in my way?

I never want to ruin what she believes
But she’s also too young to understand my reason

She’s a very good Muslim, God
She was the one who was able to reach and pray in front of your holy house in Mekah while other people had to struggle for that
She had the place in your heart, I guess
That’s why You allowed her to have a good place in front of Ka’bah

Me
I can’t even identify myself as a Muslim anymore now
I mean, I don’t understand their language
How can I praise You in the language that I don’t even understand the meaning?
They said
I can’t praise you in my language
Does Islam belongs to Arabian so only their language can be used to practice in praising You?

But God…
I DO, always try to do good things
Always try my best to avoid bad things
Things that sometimes people don’t realize other than dressing up
Should I still speak and praise you in Arabic?

My Echa looked at me deep in my eyes
Gave her sympathies
And tried to understand my reason

God…
She asked me again
If we have different way in praising You
Would we meet again in heaven?

God…
I only could say
“God
only sent you to the world through me who happened to be your Mom, but
whether we would meet again in heaven, that’s the secret of God. You’re
still belong to God. You were born alone, you would return to God
alone. I’ll try my best to be by your side as much as I can, but
remember, above all those worries, I LOVE YOU so much! And there’s
nothing can take it out from my heart, dead or alive”

God…
She smiled and said,
“When I grow up and more capable to understand everything clearly, I’ll make sure that I’ll bring you to my heaven, Mom”

God…
You’re not Arabian, right?
I believe, You understand everything in my heart…
So, God,
Please help me to show the way to my children
That I also love You, no matter how I praise and worship You…

Help me, God…

October 2nd, 2007 at 4:29 am | Comments & Trackbacks (3) | Permalink

Belakangan ini saya sering
sekali mendapatkan e-mail-e-mail yang menurut saya tidak penting dari
beberapa mailing list yang saya ikuti. Di antaranya ada satu e-mail
yang isinya menceritakan tentang pengalaman seseorang dihipnotis oleh
seorang perempuan yang kabarnya sering ‘berkeliaran’ di daerah sekitar
Plaza Semanggi. Mungkin ada di antara rekan-rekan blogger yang juga
pernah mendapatkan e-mail ini. Dalam e-mail tersebut dilampirkan photo
orang yang disebut sebagai “orang jahat” yang telah menghipnotis banyak
orang untuk kemudian mengambil barang-barang berharga milik korbannya.

Saya
sebenarnya seringkali hanya menghapus saja e-mail seperti ini, karena
e-mail berantai seperti ini biasanya sudah dikirimkan kemana-mana tanpa
saya pernah tahu akan kebenaran cerita yang terkandung di dalamnya.

Membaca kronologis cerita yang ada di e-mail tersebut, pertanyaan pertama yang singgah di kepala saya adalah : “Kalau
korban sudah demikian banyak, kenapa tidak ada satupun yang
menceritakan bahwa orang tersebut sudah dilaporkan ke polisi?”

Lalu,
karena di e-mail itu juga dilampirkan photo orang yang disebut-sebut
sebagai ‘penjahat’ oleh si penulis cerita, lalu pertanyaan berikutnya
adalah “Kalau dalam keadaan dihipnotis kok masih sempat ya
mengambil photo orang itu? Kalau bukan si korban yang memotret penjahat
itu, lalu siapa yang memotret? Apakah photo tersebut bisa dipertanggung
jawabkan? Kalau memang sudah jelas orang di dalam photo itu
penjahatnya, dan memang si korban bisa mengenali dari photo itu, kenapa
tidak melapor ke polisi ya?”

Entahlah. Begitu banyak
pertanyaan di kepala saya. Bukannya saya prihatin atau khawatir
mendengar cerita itu, saya malah melihat kejanggalan-kejanggalan.
Apalagi judul e-mail tersebut bunyinya begini : “hati-hati terhadap wanita ini, perhatikan photonya!”

Clearly, si pengirim pesan ingin sekali para penerima pesannya melihat kepada photo yang dilampirkan.

Coba sama-sama kita renungkan. Regardless the content of the message, apa
yang akan terjadi kalau ketika kita yang tadinya sama sekali tidak tahu
apa-apa tiba-tiba mendapati photo kita sendiri yang ada di lampiran
e-mail negative itu?

Sebagai penerima e-mail, apakah kita tahu, photo siapa yang sebenarnya dilampirkan di situ?

Atau,
kalau misalnya saya iseng, memforward e-mail tersebut ke teman-teman
saya yang lain dan mengganti photo itu dengan photo “monkey”, apakah
orang-orang masih akan menganggap isi pesan negative itu benar-benar
terjadi?

Ok lah, di bawah pesan itu tertulis nama dan nomor
telepon si pengirim pertama e-mail tersebut, lalu, siapa yang bisa
menjamin nama dan nomor telepon itu benar? Bukannya bermaksud
berprasangka buruk, tapi sejalan dengan tersebarnya e-mail ke berbagai
penjuru, bukan tidak mungkin nama dan nomor telepon itu berubah di
tengah jalan!

Anyway, lalu saya iseng membalas email yang
dikirim oleh teman saya tersebut, dengan tembusan ke semua orang yang
ada di e-mail itu. Intinya, saya hanya ingin mengajak para penerima
pesan itu agar tidak mudah terprovokasi oleh berita negative dan begitu
mudah tergopoh-gopoh mengirimkannya lagi kepada daftar teman mereka
sebelum meneliti kebenaran isi pesan tersebut, apalagi dengan
melampirkan photo orang lain tanpa seijin pemiliknya.

Seperti yang sudah saya duga sebelumnya, tanggapan dari para
penerima email yang kebetulan memang didominasi oleh perempuan, merasa
e-mail saya sepertinya mengganggu keasyikan lamunan mereka tentang
sosok perempuan yang dikatakan penjahat itu
dan menganggap saya menyalahkan si pendistribusi e-mail! 

Hehe…saya
hanya tertawa membaca tanggapan mereka. Perempuan, tampaknya selalu
seperti itu. Kebanyakan perempuan selalu mempergunakan emosi daripada
mendahulukan berpikir. Bukannya merenungkan apa maksud ajakan saya,
tetapi malah mati-matian membela si pendistribusi email yang tentu saja
teman mereka dan teman saya juga. Bagi saya itu benar-benar lucu. Kok sepertinya para perempuan susah sekali ya diajak berpikir?
Saya kan tidak menyalahkan si pendistribusi e-mail, tapi saya
mengajaknya supaya berhati-hati kalau menyebarkan pesan apalagi
menyebarkan photo orang lain tanpa ijin!

Terlepas dari benar atau tidaknya cerita tentang kejahatan orang tersebut, menyebarkan berita tanpa tahu kebenarannya sama saja dengan bergosip dan menyebarkan fitnah.
Membantu menyebarkan berita itu tanpa pernah tahu apakah berita itu
benar atau tidak, sama saja dengan menceritakan keburukan orang lain,
dan sudah pastilah mereka yang begitu mudah menceritakan keburukan orang lain selalu merasa diri mereka lebih baik.
Pastilah di mata mereka perempuan itu adalah penjahat. Kalau
membuktikan perempuan itu sebagai penjahat saja belum bisa, kenapa
harus menghakimi sendiri dengan cara menyebarkan berita itu? Bukankah sebenarnya yang menyebarkan menjadi lebih merugikan orang lain?

So, yang sudah menjadi “penjahat” duluan sebenarnya siapa ya?

Ini
sama saja seperti kita sedang duduk-duduk santai di depan rumah,
tiba-tiba ada orang menunjuk seseorang sambil teriak “maling…maling…”.
Kita tidak melihat kejadiannya, tapi ketika mendengar kata “maling” dan
melihat orang menunjuk orang lain, pikiran kita akan cepat berkata “nah, ini pasti malingnya, ayo hajar!”Lho??

Think, my friends! Think, analyze, and check for the truth before participating to judge other people! Biasakanlah berpikir sebelum mengambil tindakan!  Padahal yang menyebarkan email ini kepada orang lain lagipun, bukan orang yang pernah dirugikan secara langsung! We’re humans, aren’t we? 

August 9th, 2007 at 1:19 am | Comments & Trackbacks (2) | Permalink

Finally, setelah dua tahun menunda keinginan untuk melanjutkan studi S2, akhirnya minggu lalu saya memantapkan hati untuk mengikuti ujian masuk Program Magister Hukum UGM.

Pertama mendaftar, bingung juga, karena harus membuat makalah masalah hukum. Bagaimana mau membuat makalah hukum, sedangkan saya lulusan Sastera Inggris. Walaupun selama ini saya sering membantu Mas D di law firm-nya, tetap saja saya merasa tidak percaya diri kalau harus membuat makalah hukum sendiri.

Rayuan saya kepada Mas D untuk membuatkan saya makalah itupun tidak mempan. Dia hanya mau membantu saya membuatkan skema, tapi keseluruhannya harus saya sendiri yang membuat. Sempat juga saya menggerundel, “ah, repot banget, belum juga jadi mahasiswa hukum sudah disuruh buat makalah. Mending kalau nantinya diterima!”

Padahal, sehari sebelumnya ketika saya menelepon untuk mencari informasi pendaftaran, saya hanya diberitahu bahwa ujian masuknya hanya bahasa Inggris! Wih, kalau cuma tes bahasa Inggris sih, biar kemana juga gue ikutin! Tapi kalau membuat makalah hukum? Arghh….

Tapi Mas D memang penyemangat yang baik. Skema yang dibuat oleh Mas D membuat saya mudah merangkainya menjadi satu makalah.

Kasus PHK menjadi topik pilihan saya. Seharian, ketika di kantor sedang lowong, saya sibuk mendownload berbagai peraturan dan undang-undang yang saya perlukan untuk membuat makalah itu. Kebiasaan saya menulis ternyata sangat membantu. Makalah yang dibatasi harus minimal 5 halaman ternyata tidak begitu terasa. Semuanya mengalir begitu saja ketika saya membuat makalah itu hingga mencapai 8 halaman.

Makalah selesai. Saya sempat tersenyum sendiri membaca makalah itu. Tapi saya tetap tidak yakin makalah saya itu sudah memenuhi syarat atau belum. Ketika saya sodorkan makalah itu ke Mas D, jawabannya sungguh melegakan “wahhhh hebat yayang…bagus nih makalahnya!”, kata Mas D sambil mengucel-ucel rambut saya.
Ah, saya pikir dia pasti meledek saya.

“Ah…kamu pasti cuma ngeledek ya? Salah kan makalah ku?”, tanya saya sambil cemberut.

“Nggak! Memang bagus kok, aku aja baca sampai selesai…”, jawabnya meyakinkan saya.

Ya, saya tahu. Memang tidak mudah membuatnya untuk membaca sesuatu yang tidak menarik perhatiannya. Tapi ini makalah saya, gitu loh! Ya pasti dia baca sampai selesai lah!

Tapi saya sudah tidak punya waktu lagi untuk membuat makalah baru. So, if he said it’s good, it must be good, and I trust him. Jadilah makalah itu saya serahkan ke UGM pada saat saya mendaftar.

Ujian selanjutnya, bahasa Inggris. Sebelum ujian, saya merasa mantap sekali. Tes bahasa Inggris dimanapun selalu saya hadapi dengan mudah.

Tapi begitu soal pertama saya baca, Ow, My God! Susah banget soalnya! Ini bukan tes bahasa Inggris biasa, ini tes bahasa Inggris untuk Lawyer! Bukan cuma banyak terminologi yang saya tidak mengerti, tapi juga butuh analysis dan logika yang tepat dalam membaca soal ceritanya! Arghhhh….

Sebelum panik melanda, saya mulai berkonsentrasi membaca dengan teliti setiap soal yang diberikan. Tidak lama kemudian, datang peserta ujian lain. Perempuan juga. Dia duduk di meja sebelah saya. Kehadirannya membuat saya terganggu. Sementara saya harus membaca setiap soal berulang-ulang dengan teliti dan dalam hati, perempuan itu asyik membaca soal dengan suara berbisik-bisik. You know what’s happened? Sepanjang waktu tes saya harus menutup telinga sebelah kiri saya supaya konsentrasi saya tidak terganggu oleh suara bisik-bisiknya membaca soal! Damn!

Keluar dari tempat ujian, hati saya tidak tenang. Kenapa membuat makalah hukum jadi terasa lebih mudah daripada ujian bahasa Inggris tadi? Saya khawatir tidak lulus! Untuk pertama kalinya lagi dalam perjalanan hidup saya, saya merasakan deg-degan menunggu hasil ujian masuk saya!

Dan hari ini, saya mendapat surat dari UGM. Saya diterima!

Terima kasih Tuhan. Akhirnya setelah sekian lama menunggu kesempatan ini, sekarang saya bisa melanjutkan studi saya.

Hal lain yang membuat saya senang adalah, ternyata keinginan saya melanjutkan studi S2 Magister Hukum membuat Mas D juga meluangkan waktu sibuknya untuk ikut melanjutkan jenjang studinya. So, both of us will go to college together! Seperti apa ya nanti rasanya? Kalau dulu jaman kuliah bisa naksir teman sekelas, sekarang masih bisa nggak ya? ;) *hihi….

June 26th, 2007 at 12:24 am | Comments & Trackbacks (2) | Permalink

Saya baru saja membaca berita di indosiar.com. Beritanya cukup membuat saya tertarik membacanya.

Selama
ini, ustadzah yang satu ini dikenal sering sekali menasehati para
isteri atau ibu rumah tangga yang menyampaikan keluhannya baik melalui
media TV maupun radio, untuk bersabar dalam menjalani kehidupan rumah
tangga dan memaafkan kekurangan para suami mereka.

Kata-kata
“sabar”, “menerima kezaliman suami sebagai jalan untuk ke surga”,
“menghindari perceraian karena itu dibenci Tuhan”, adalah
kalimat-kalimat yang sering diucapkannya. Sampai saya sendiripun sering
kesal mendengar ceramahnya.

Pada waktu itu, saya bertanya-tanya sendiri.

“Bagaimana keadaan rumah tangganya sendiri sebenarnya?”

“Apakah dia benar-benar seorang isteri yang sangat taat dan patuh pada suami dan penuh pengertian?”

“Apakah kehidupan rumah tangganya begitu harmonis?”

Gotcha! Dan sekarang pertanyaan-pertanyaan saya di atas pun terjawab sudah.

Judulnya : “Lutfiah Sungkar Cerai Lagi!”

Lagi?
Kalau judulnya cuma “Lutfiah Sungkar Cerai” mungkin tidak terlalu
menarik. Tapi kata “Lagi” di belakangnya ini yang membuat saya
penasaran.

Mengejutkan, perkawinan ketiga Lutfiah, dengan
seorang laki - laki bernama Hasan Usman Al Amudi, yang menikahinya 22
Maret lalu, berumur super singkat, yakni 1 bulan 10 hari.

Hihihi…
Saya jadi tertawa geli. Walaupun di berita itu ditulis Lutfiah
berkomentar "Kalau saya tahu saya malu, saya tidak akan menikah kemarin
itu. Ternyata pilihan saya itu salah. Tapi di atas segalanya, Allah
telah menyelamatkan saya dan ada hikmah di balik itu. Insya Allah
diberi hikmah yang lebih baik dan masih dijaga Allah. Dengan perceraian
ini, saya diselamatkan dari bahaya yang lebih besar”.

Jelas,
bagi saya pribadi, argument Lutfiah ini sama saja dengan argument
orang-orang lain. Just a common answer. Siapapun akan mengambil jalan
seperti ini kalau mendapati laki-laki yang dikawininya ternyata tidak
punya pekerjaan tetap.

Lalu, bagaimana dengan petuah-petuahnya kepada para isteri dan ibu-ibu yang selama ini selalu menunggu ceramah darinya soal “ketaatan, pengertian mendalam, dan pintu surga bagi para isteri atas baktinya kepada suami?”

Well, Lutfiah juga manusia. Lutfiah juga tahu perceraian itu dibenci Tuhan. Tapi
mungkin Lutfiah masih cinta dengan kehidupan duniawinya dan berpikir
lebih baik dibenci Tuhan deh, daripada hidup di dunia ini sengsara
karena salah memilih suami!
*hihi…. Dan salahnya sampai 3 kali! wih..wih….

Satu
bukti lagi. Setelah Gymnastiar yang selalu teriak-teriak soal kehidupan
di akhirat tapi imannya goyah oleh kecantikan perempuan lain, sekarang
Lutfiah ternyata juga masih memikirkan kepentingan duniawinya dengan
menceraikan suaminya.

Saya jadi ingin bilang kepada Lutfiah :
"Hi Bu Lutfiah! Ternyata menjalani sesuatu lebih sulit daripada bicara ya Bu?"

May 10th, 2007 at 3:19 am | Comments & Trackbacks (4) | Permalink

I finally finished my project. Publishing a book!

Buku kumpulan cerita pendek hasil karya para blogger Indosiar ini akhirnya berhasil saya terbitkan setelah melalui proses yang lumayan panjang dan agak melelahkan juga.

But I’m happy with it. Walaupun buku ini tidak untuk dikomersialkan, paling tidak saya sudah berusaha membangkitkan semangat menulis para blogger yang saya tahu pasti sebenarnya mereka bisa menulis dengan baik.

Launching buku dan penyerahan kepada para blogger bisa dilihat di :

http://blog.indosiar.com/roseheart/?op=readblog&idblog=65856

 

Project done! Satisfactorily! I guess… :D

Hits4

April 5th, 2007 at 4:29 am | Comments & Trackbacks (3) | Permalink

Saking kesalnya dengan birokrasi pemerintah, saya lebih senang menyebutnya dengan sebutan BOROKRASI.

Saya
heran, atau sebetulnya saya tidak perlu heran ya? Birokrasi di dalam
pemerintahan itu sudah biasa, jadi tidak perlu heran lagi.

Tapi
kebiasaan ini kan menghambat? Seolah-olah membuat sesuatu yang
sebenarnya simple dan bisa dikerjakan dalam jangka waktu beberapa menit
saja bisa menjadi berminggu-minggu? Padahal, jumlah pegawai negeri di
Negara ini amat sangat banyak sekali! Dan kalau melihat sikap mereka
yang terlihat santai ketika bekerja, apakah birokrasi ini masih patut
dipertahankan?

Salah satu lembaga pemerintah yang saya lihat
cara kerjanya mulai bagus adalah Dinas Lalu Lintas Kepolisian RI.
Beberapa waktu yang lalu, ketika saya sedang mengurus salah satu plat
CD kantor kami, saya mendapatkan informasi baru. Pengurusan BPKB mobil
yang dulunya selalu disebut-sebut oleh dealer mobil memakan waktu 3 – 4
bulan, sekarang sudah bisa selesai dalam waktu 1 – 2 hari! Dan
pencetakan plat mobil atau motor? Bisa selesai hanya dalam waktu 10
menit! Bayangkan, bukankah itu suatu kemajuan yang sangat berarti?

So,
kalau di antara pembaca ada yang sejak bulan Desember membeli mobil
atau motor baru dan belum mendapatkan BPKB kendaraannya, coba check di
Ditlantas Polri, pasti BPKB itu sudah jadi! Saya sendiri mengalami hal
tersebut, karena pada saat itu dealer mobil tempat kantor saya membeli
mobil belum menyerahkan BPKB mobil tersebut. Saya mengecek langsung ke
bagian BPKB mobil di Ditlantas, dan ternyata BPKB itu sudah jadi pada
tanggal 18 Desember 2006 dan sudah diambil oleh dealer, sementara hari
itu adalah tanggal 8 Januari 2007 dan dealer belum menyerahkan BPKB itu
kepada kantor kami! Mobil itu dibeli tanggal 6 Desember 2006, berarti
untuk memproses ke Ditlantas saja, dealer membutuhkan waktu 2 minggu!
Bah!

Thumb up for Ditlantas Polri yang makin hari kinerja-nya makin membaik.

Tapi
di lembaga pemerintah lain, prestasi seperti itu belum terjadi. Pada
beberapa lembaga atau departemen, ke-santai-an masih saja terlihat.
Untuk mengurus satu surat saja butuh waktu satu bulan! Fiuh…

Ketika pertama kali saya menanyakan kira-kira berapa lama untuk memproses surat tersebut, mereka menjawab “nggak lama kok….paling satu minggu…”

What? Satu minggu nggak lama? Kalau di perusahaan-perusahaan biasa satu minggu sudah jadi berapa ratus surat ya?

Kenyataannya,
kalau ada salah seorang pegawai negeri yang sakit, urusan bisa
terbengkalai karena tidak ditangani oleh pejabat penggantinya. Surat
yang tadinya dijanjikan satu minggu keluar, harus menunggu sampai
pejabat yang bersangkutan sembuh dari sakit, dan masuk kerja lagi!

Kalau begini terus, bagaimana urusan-urusan di Negara ini bisa selesai dengan cepat?

Lucunya, setiap pejabat pemerintah yang saya temui, selalu berkata, “yah… saya sebenarnya tidak begitu suka juga dengan birokrasi, tapi memang beginilah yang terjadi, mau bagaimana lagi?”

Geez….
kalau mereka sendiri tidak suka, ya rubah dong! Contohlah Ditlantas
Polri! Sekarang mereka tidak bisa lagi bermain-main dengan
mengulur-ulur waktu karena pengawasan terhadap mereka ketat!

Coba
bayangkan kalau berapa puluh juta pegawai negeri di seluruh Indonesia
ini dibangunkan dari tidurnya dan digerakkan agar bekerja dengan cepat,
pasti segala urusan akan cepat teratasi!

Tapi mereka malah
bangga dengan birokrasi ini. Bilang tidak suka, tapi menikmati
birokrasi ini. Karena dimana ada birokrasi, di situ ada transaksi.
Birokrasi + transaksi jadilah Borokrasi!

Kalau mau berkeluh kesah, “yah… pegawai negeri kan gajinya kecil…” Saya ingin bertanya lagi, “Lho, yang nyuruh jadi pegawai negeri itu siapa? Apakah ada paksaan untuk menjadi pegawai negeri?” TIDAK ADA!

Bukan
rahasia lagi kalau di jaman sekarang ini orang-orang ingin menjadi
pegawai negeri dengan target investasi. Investasi 40 – 50 juta di depan
untuk menyuap supaya bisa diterima menjadi pegawai negeri, lalu
mulailah target menabung sampai balik modal! Bagaimana caranya? Yah….
Mungkin salah satunya dengan tetap mempertahankan birokrasi yang sudah
menjadi borok di tubuh lembaga pemerintah!

January 23rd, 2007 at 3:58 am | Comments & Trackbacks (2) | Permalink

Workers and investors are two opposing parts of economic development. Nevertheless, the two sides need each other, because one cannot exist without the other. The problem is "how to make them work together to their mutual benefit".

This problem is now rests on the shoulders of the Government. It started with businessmen strenuously complaining about Indonesia’s regulations on employment, which they said creates an unattractive climate to investors. The government reacted swiftly to these complaints, and the transmigration and manpower departments have been busy drawing up a revision to the existing Labor Law.

The government is right to react to the complaints because without investment there will be no economic growth, no opportunities to absorb the workforce, causing unemployment to rise. Unfortunately, however, the revision process was flawed, with the result that workers saw it as a threat. Consequently, thousands took to the streets in opposition.

The workers too by the way, have a point. The attempt to do away with the right to severance pay for people earning more than Rp. 1,100,000 per month, for example, clearly means workers will lose out. But if it is the size of the severance pay that is to be revised, negotiations can be held over an acceptable amount. Comparisons can be made with other countries, particularly those which are Indonesia’s competitors.

This comparison must be comprehensive, and not just based on the amount of severance pay because in several countries severance pay is less, but the government pays unemployment benefits. In some countries, an unemployed people do not have to worry about going hungry while they are looking for new jobs because the government provides assistance with obtaining basic necessities.

But the opposite is true in Indonesia. There is almost no government aid for the poor and the unemployed. As a result, payments to workers and employees being made redundant are the responsibility of the companies concerned, in the form of severance pay. This would not be a problem if the company was making a huge profits, but it is clearly a burden in difficult times. The government’s policy makes it difficult for businesses, which must contend with the reality of the profit and loss cycle, to cope. This in turn, makes it difficult for the economy to recover from the onslaught of global competition.

Along these lines, it is clear that the dispute between workers and investors is not going to be resolved merely by inviting both sides to the negotiating table.

In this part, the Government should consider such a decision in order to end the dispute between the workers and employers.

The Government cannot just wash their hands of the problem, claiming the free market will produce the best solution!

A question, would the Government be able to mediate peace between them?

We cannot wait to see it!

April 13th, 2006 at 12:01 am | Comments & Trackbacks (0) | Permalink

Ada sebuah Negara bernama Sendiri. Negara ini dari jaman dulu sampai sekarang, rasanya orang-orang yang duduk di pemerintahannya tidak ada yang bisa dipercaya. Mau berapa generasi yang berganti-ganti menjadi pemerintah ataupun wakil rakyat tetap saja tidak pernah ada yang bisa menentramkan hati rakyatnya.

Tapi saya bukan mau cerita soal pemerintah di sini. Sekarang saya sedang lebih tertarik pada salah satu Bank yang ada di Negara Sendiri itu.

Ada salah satu Bank besar yang dikelola oleh pemerintah di Negara Sendiri ini, namanya Bank Independen.

Mulanya saya tidak percaya kalau tidak mengalami sendiri kejadian di Bank Independen itu.

Suatu ketika, saya bermaksud menarik uang saya di Bank Independen ini. Ketika di Teller, saya melihat dengan jelas Teller tersebut menghitung jumlah uang yang saya tarik dengan menggunakan mesin penghitung uang. Ketika dijumlah di mesin uang itu, jumlahnya persis sama dengan yang saya tulis di slip penarikan. Tanpa menghitung lagi, ketika uang itu sudah ada di tangan saya, saya langsung mengambil dan membawa pergi segepok uang yang sudah dihitung dengan mesin penghitung tadi.

Kebetulan, hari itu saya bermaksud menyetorkan uang yang saya tarik tadi ke rekening saya di bank yang lain. Sebut saja Bank Duit. Ketika saya sampai di Bank Duit, saya menyerahkan uang yang masih dalam lilitan itu kepada Teller di Bank Duit.

Petugas Teller Bank Duit kemudian menghitung kembali uang saya dengan menggunakan mesin penghitung uangnya. Sekali hitung, kurang satu lembar. Teller itu memperbaiki letak uang dalam lilitan itu, dan kembali menghitungnya dengan masih menggunakan mesin penghitung uang. Tetap kurang satu lembar. Kemudian Teller itu mengulangi lagi menghitung uang saya tersebut secara manual. Hasilnya? Tetap kurang satu lembar!

Saya jadi penasaran. Padahal uang itu baru saja saya ambil dari Bank Independen, dan di sana jumlahnya benar. Saya mencoba menghitung sendiri uang saya itu. Benar, memang kurang satu lembar. Damn! Padahal uang ini belum saya pergunakan selembar pun dan sewaktu dari Bank Independen, saya langsung menuju ke Bank Duit untuk menyetorkannya.

Petugas Teller Bank Duit bertanya, "Memang Ibu ambil uangnya dari Bank mana Bu?"

"Dari Bank Independen", jawab saya.

"O… kalau dari Bank itu sih sudah seringkali terjadi Bu, Tellernya suka nakal!", kata si Teller Bank Duit lagi.

Ah, saya pikir itu jawaban dari seorang karyawan Bank kompetitor, pasti mereka akan mempunyai jawaban-jawaban seperti itu. Sudah biasa antara Bank yang satu menjatuhkan Bank yang lain.

Akhirnya dengan kesal dan masih bertanya-tanya sendiri dalam hati, saya meninggalkan Bank Duit setelah menyetorkan uang yang “berkurang satu lembar” yang saya tarik dari Bank Independen.

Esoknya, kebetulan saya ada urusan yang harus saya tangani di kantor pusat kepolisian. Sambil menunggu waktu, saya sempat berbincang-bincang dengan kenalan saya yang kebetulan bekerja di bagian criminal. Saya juga sempat menceritakan pengalaman saya dengan Bank Independen itu. Dan ternyata rasa ingin tahu saya terjawab.

Menurut teman saya itu, Bank Independen mempunyai banyak kasus dimana karyawannya terutama Tellernya yang dilaporkan ke kepolisian karena ketahuan "mengambil" uang nasabahnya. Caranya adalah dengan mencari titik lengah si nasabah kemudian menarik selembar dari gepokan uang yang ditarik. Kalaupun ada nasabah yang kemudian kebetulan "merasa" uangnya berkurang satu lembar, ketika si nasabah kembali ke Bank untuk mempersoalkan, mereka akan menjawab bahwa nasabah itu sudah meninggalkan Bank dan mereka sudah melakukan penghitungan sebelum nasabah menerima uang tersebut. Transaksi sudah selesai.

Dari cerita saya di Negara Sendiri ini, saya hanya ingin berbagi pengalaman. Buat rekan-rekan yang kebetulan sering mengambil uang di Teller, hati-hatilah. Jangan sampai lengah sedetikpun. Bila perlu, hitung kembali uang yang diberikan kepada anda. Bayangkan, kalau dari satu nasabah mereka "menarik" satu lembar 50 ribuan atau 100 ribuan, dalam sehari bisa berapa yang mereka dapatkan dari hasil "tarikan" mereka itu?

April 12th, 2006 at 2:42 am | Comments & Trackbacks (0) | Permalink

Sekelompok orang dari salah satu daerah di Jawa Timur membakar 2 motor polisi.

Kejadian ini dipicu oleh terjadinya kecelakaan sepeda motor yang berusaha kabur ketika Polres setempat mengadakan razia kendaraan bermotor.

Tidak disebutkan penyebab kaburnya pengendara sepeda motor itu melihat petugas yang sedang melakukan razia, akan tetapi ketika motor itu berusaha kabur, dia terserempet truk yang sedang melaju di jalan yang sama. Pengendara sepeda motor dan penumpangnya terjatuh.

Warga sekitar yang melihat kejadian tersebut kemudian mengeroyok 2 petugas polisi yang lewat di jalan tersebut dan membakar motor petugas. Ketika kamera TV mengarah kepada mereka, dengan bangganya mereka beraksi menunjukkan hasil perbuatan mereka. Bahkan kelihatan over acting alias norak.

Aksi itu baru berhenti setelah satu regu kepolisian datang membubarkan kelompok massa yang sedang "menikmati" hasil penyerangan mereka itu.

Kejadian seperti itu menimbulkan pertanyaan dalam hati saya. Apakah sudah sedemikian brutal dan frustrasinya kebanyakan masyarakat kita? Karena kejadian seperti ini dimana massa senang main hakim sendiri makin banyak terjadi.

Mereka senang melakukan pengeroyokan dan perusakan tanpa mau berfikir apakah perbuatan mereka itu benar atau salah. Atau juga berfikir akan efek yang terjadi setelah mereka melakukan perusakan. Pokoknya kalau ada "keramaian" di suatu tempat ikut-ikutan saja, hajar dulu, urusan lain belakangan. Padahal jelas-jelas pengendara motor yang celaka itu sedang dalam proses "kabur" dari razia yang dilakukan polisi.

Di pesawat TV saya, saya melihat kelompok orang yang melakukan perusakan itu tertawa-tawa bangga setelah berhasil membakar sepeda motor milik petugas kepolisian.

Beberapa pertanyaan menggelitik hati saya lagi.
Benarkah mereka bangga melakukan hal itu?
Kenapa mereka begitu mudah terprovokasi untuk melakukan penyerangan dan perusakan seperti itu?
Apa yang menyebabkan banyak masyarakat kita menjadi senang melakukan hal-hal seperti itu? Frustrasikah? Beban hidup yang sudah terlalu berat? Tingginya jumlah pengangguran? Pendidikan yang rendah? atau memang jiwa kebanyakan masyarakat kita yang sudah terlalu lelah menghadapi situasi ekonomi yang begitu sulit sekarang ini? atau ini pelampiasan dari kekecewaan mereka yang terpendam sekian lama melihat sikap arogan beberapa oknum kepolisian?

Mereka seperti tidak takut hukum ketika sudah berada dalam suatu kelompok. Padahal mungkin saja di antara para penyerang itu banyak yang tidak mengerti duduk persoalannya. Pokoknya ikut-ikutan saja biar tambah ramai!

Dan apa yang saya lihat ketika satu regu kepolisian datang membubarkan mereka? Dengan tegas polisi meminta mereka membubarkan diri, dan mereka cepat-cepat menyingkir seolah-olah itu bukan perbuatan mereka. Merasa kalah kuat dengan regu kepolisian, mereka membubarkan diri masing-masing dan menunjukkan wajah seolah mereka hanyalah penonton yang sedang melihat "keramaian"!

Ck..ck..ck.. betapa menyedihkan melihat banyak masyarakat kita yang seperti itu. Bagaimanapun juga kalau polisi mau bertindak untuk menangkap orang-orang yang melakukan penyerangan dan perusakan, pasti mereka tidak akan mengaku dan akan saling tunjuk satu sama lain!

Hal-hal seperti ini luput dari pengamatan pemerintah. Jiwa kerdil masyarakat ini harus dibangun! Seharusnya pemerintah bisa melihat gejala-gejala seperti ini yang semakin lama semakin berkembang di masyarakat kita. Seharusnya pemerintah berusaha membawa masyarakat kita menuju peradaban yang lebih maju, dan tidak membiarkan masyarakat menjadi liar hanya karena tekanan ekonomi yang sudah demikian parah.

Then I said to myself, fiuh… too much watching the news on TV is frustrating. This country has never been that wonderful anymore…

March 14th, 2006 at 7:00 pm | Comments & Trackbacks (0) | Permalink

Dear Blog,

Melalui tulisan ini saya hanya ingin mengajak perempuan untuk sama-sama berfikir bahwa masih ada harapan yang lebih baik bagi kaum perempuan bila hak-haknya diperjuangkan.

Banyak kejadian dimana ketidak mampuan perempuan bertindak karena selalu dihadang para ekstrimis religius. Dengan topeng islamisasi, mereka bisa berbuat apa yang mereka mau. Agama dijadikan dalih untuk mengintimidasi perempuan.

Sebenarnya, persoalannya sendiri bukan terletak pada Agama itu, melainkan adanya orang-orang yang haus akan kekuasaan yang menggunakan agama untuk mencapai apa yang mereka inginkan. Mereka ingin perempuan tetap tak berdaya. Ajaran agama yang ditafsirkan secara otoriter dan fanatisme yang kebablasan telah membuat hak-hak perempuan diabaikan.

Dengan demokrasi yang benar, seharusnya hak-hak perempuan bisa ditegakkan. Perempuan harus bisa lebih mandiri. Kasus-kasus diskriminasi sudah banyak sekali terjadi di negara ini.

Keadaan di negara ini hampir tak lagi sekuler. Banyak masyarakat yang tidak punya toleransi terhadap pandangan orang lain. Menyedihkan sekali melihat kaum perempuan menjadi obyek dari sekelompok orang yang senang mengagungkan diri dan kelompoknya dan bersikap sangat arogan. Kuatnya ajaran agama dijadikan legitimasi berbagai bentuk diskriminasi terhadap perempuan.

Di saat negara dalam keadaan seperti sekarang ini, perempuan telah menjadi bagian yang terkena dampak langsung dari ketidakmampuan negara menyejahterakan rakyat. Angka kematian ibu melahirkan yang masih tinggi, banyaknya perempuan yang buta huruf, dan juga tingginya angka kekerasan terhadap perempuan hanya beberapa contoh dampak langsung tersebut.

Sementara pada saat yang sama, negara dan para "wakil rakyat" menambah deretan tekanan tersebut dengan memojokkan perempuan melalui tubuhnya. Lahirnya berbagai Perda dan RUU APP yang sedang dibahas sebagai usul inisiatif DPR menjadikan perempuan pihak yang dianggap bertanggung jawab atas rusaknya moral bangsa. Inti dari semua peraturan itu menyerang integrasi perempuan dan menghambat perempuan memperoleh hak-hak azasinya.

Pihak-pihak yang mencoba melihat, mendudukkan persoalan dan berfikir jernih ditakut-takuti dengan moralitas agama!

Agama, selalu merupakan jawaban yang mudah membuat orang bungkam dan dibungkam! Pathetic! Hal yang menyesakkan dan menjadikan masalah ketidakadilan tidak bisa dilontarkan dengan leluasa. Orang-orang yang "merasa" memiliki kekuasaan di negara ini, secara eksplisit berusaha menutupi ketidakmampuan negara menyejahterakan rakyatnya dengan cara melemparkannya pada "kebobrokan moral bangsa". Semua masalah disempitkan menjadi "masalah moral", kemudian dipersempit lagi menjadi "moral perempuan". Semua tanggung jawab dilemparkan pada tubuh perempuan! Gees….

Padahal dalam situasi ekonomi yang semakin sulit ini, banyak laki-laki yang terkena PHK, menjadi pengangguran, dan tidak mampu mencukupi kebutuhan keluarganya. Isteri atau perempuan, mau tidak mau harus bekerja di luar rumah untuk membantu menanggung biaya hidup keluarga.

Anggota DPR yang seharusnya memperjuangkan hal-hal yang lebih mendesak, bukannya menyelesaikan persoalan-persoalan yang lebih mendesak dalam menyejahterakan masyarakat, malah memaksakan pembuatan Undang-undang yang substansinya mendiskriminasikan perempuan (dengan dalih "melindungi") dan bahkan mengancam kesatuan negara. Sementara Pemerintah? Pemerintah sepertinya bisu, tuli, dan buta terhadap masalah-masalah seperti ini!

Perempuan di negara ini harus berani mengubah pemikirannya. Perempuan-perempuan yang mendukung RUU APP yang sekarang ini sebaiknya membaca SUBSTANSI draft RUU itu dengan TELITI dan SEKSAMA karena di dalamnya tidak hanya mencakup urusan pakaian muslim yang selama ini selalu dibanggakan perempuan yang senang berbusana tertutup. Saya yakin, kebanyakan dari perempuan-perempuan bahkan BELUM pernah membaca draft RUU tersebut.

Tidak ada orang yang senang mendukung adanya pornografi, akan tetapi lagi-lagi, substansi dari draft RUU ini yang harus dipahami dengan benar agar tidak menambah daftar panjang perilaku diskriminasi yang telah diterima perempuan sejak dulu.

Perempuan, jangan berdiam diri melihat banyak ketidakadilan yang terjadi. Paling tidak, mulailah dari diri sendiri. Cintailah diri sendiri sebagai seorang perempuan dengan memahami dan mengerti betul apa yang kita mau dan apa yang menjadi hak kita. Jangan biarkan hak perempuan untuk hidup layak terenggut oleh produk-produk tafsir agama yang membuahkan kekerasan terhadap perempuan.

*sebagai renungan*

March 12th, 2006 at 8:06 pm | Comments & Trackbacks (3) | Permalink